Beberapa waktu lalu, baca berita bahwa presiden menyatakan sekolah tatap muka akan dimulai Juli 2021 mendatang.
Kepala yang lagi cenat cenut, tambah berdenyut. Pasalnya, masih lama juga harus menjadi "guru palsu". Sabaaaaaar, ini ujian.
Meski bapak almarhum seorang guru. Tidak berarti, anaknya lalu mewarisi. Bahkan dulu ketika diminta untuk sekolah guru. Aku, lebih memilih jalan lain. Karena tidak ada panggilan jiwa menjadi tenaga pendidik.
Apes. Sudah jauh-jauh melarikan diri untuk tidak menjadi guru. Wabah memaksa diri ini menjadi guru untuk anak sendiri dan bakal digenapkan satu tahun ajaran.
Aku, guru abal-abal yang tidak tahu detail kurikulum. Detail rencana pembelajaran semester. Buta dan lain-lain tentang teknis mengajar serta segalanya dalam ilmu keguruan.
Perlu digarisbawahi guru adalah profesi. Ada tuntutan profesionalitas, ada kompetensi. Praktis, tidak semua orang mampu. Hanya berbekal beberapa buku lembar kerja siswa. Tugas harian yang dikirim oleh guru asli. Apa jadinya?
Bukankah seperti takhayul, sekolah di rumah saja. Pada realitanya, crowded. Sulit dinarasikan situasi belajar di rumah saja.
Memang, aku generasi "Sekolah itu Candu" sebagaimana Roem Topatimasang jabarkan dalam bukunya yang ditulis era 80-an. Namun, tetap relevan hingga puluhan tahun kemudian.
*
Si kembar tak mengakui belajar sistem daring adalah sekolah.
Nasibnya si kembar. Di usia lima tahun, baru masuk pendidikan anak usia dini. Setelah meminta sekolah sejak sekitar umur tiga tahun jalan.
Namun, kebahagian bisa masuk sekolah direnggut oleh corona virus. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan menunggu. Urung juga berangkat. Sampai bosan bertanya, "kapan sekolah?" dan yang menjawab lebih bosan lagi, "sekolahnya di rumah,"
Sampai bulan terus berganti. Masih belum sekolah di gedung sekolah. Dan kepala ini bertambah cenat cenut kala menjadi "guru-guruan".
"Masa aku nggak sekolah PAUD, kakak sekolah PAUD tiga tahun. Kakak punya piala juara satu lomba mewarnai. Aku kapan ikut lomba mewarnai?"
Dan masih banyak rentetan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi, terus ditanyakan dan ditanyakan lagi.
Di awal pandemi, selalu membesarkan hati bahwa ibu adalah madrasah untuk anak-anaknya. Bahwa ada jariyah di setiap kata yang orang tua ajarkan.
Selalu beristighfar untuk meredam amarah. Saking kesalnya dicampur kondisi lelah dan penat. Suasana belajar yang sungguh jauh dari kata ideal.
Boleh kiranya orang tua yang jenuh ini mengibarkan bendera putih di bulan-bulan menjelang dibukanya kembali pembelajaran tatap muka. Walau pada kenyataannya tetap harus menjadi guru abal-abal untuk mendampingi murid betulan.
Kepala yang lagi cenat cenut, tambah berdenyut. Pasalnya, masih lama juga harus menjadi "guru palsu". Sabaaaaaar, ini ujian.
Meski bapak almarhum seorang guru. Tidak berarti, anaknya lalu mewarisi. Bahkan dulu ketika diminta untuk sekolah guru. Aku, lebih memilih jalan lain. Karena tidak ada panggilan jiwa menjadi tenaga pendidik.
Apes. Sudah jauh-jauh melarikan diri untuk tidak menjadi guru. Wabah memaksa diri ini menjadi guru untuk anak sendiri dan bakal digenapkan satu tahun ajaran.
Aku, guru abal-abal yang tidak tahu detail kurikulum. Detail rencana pembelajaran semester. Buta dan lain-lain tentang teknis mengajar serta segalanya dalam ilmu keguruan.
Perlu digarisbawahi guru adalah profesi. Ada tuntutan profesionalitas, ada kompetensi. Praktis, tidak semua orang mampu. Hanya berbekal beberapa buku lembar kerja siswa. Tugas harian yang dikirim oleh guru asli. Apa jadinya?
Bukankah seperti takhayul, sekolah di rumah saja. Pada realitanya, crowded. Sulit dinarasikan situasi belajar di rumah saja.
Memang, aku generasi "Sekolah itu Candu" sebagaimana Roem Topatimasang jabarkan dalam bukunya yang ditulis era 80-an. Namun, tetap relevan hingga puluhan tahun kemudian.
*
Si kembar tak mengakui belajar sistem daring adalah sekolah.
Nasibnya si kembar. Di usia lima tahun, baru masuk pendidikan anak usia dini. Setelah meminta sekolah sejak sekitar umur tiga tahun jalan.
Namun, kebahagian bisa masuk sekolah direnggut oleh corona virus. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan menunggu. Urung juga berangkat. Sampai bosan bertanya, "kapan sekolah?" dan yang menjawab lebih bosan lagi, "sekolahnya di rumah,"
Sampai bulan terus berganti. Masih belum sekolah di gedung sekolah. Dan kepala ini bertambah cenat cenut kala menjadi "guru-guruan".
"Masa aku nggak sekolah PAUD, kakak sekolah PAUD tiga tahun. Kakak punya piala juara satu lomba mewarnai. Aku kapan ikut lomba mewarnai?"
Dan masih banyak rentetan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi, terus ditanyakan dan ditanyakan lagi.
"Aku nggak mau langsung MI besok. Sekolah PAUD dulu. Sekolah di rumah bukan sekolah," rajuk si kembar.*
Di awal pandemi, selalu membesarkan hati bahwa ibu adalah madrasah untuk anak-anaknya. Bahwa ada jariyah di setiap kata yang orang tua ajarkan.
Selalu beristighfar untuk meredam amarah. Saking kesalnya dicampur kondisi lelah dan penat. Suasana belajar yang sungguh jauh dari kata ideal.
Boleh kiranya orang tua yang jenuh ini mengibarkan bendera putih di bulan-bulan menjelang dibukanya kembali pembelajaran tatap muka. Walau pada kenyataannya tetap harus menjadi guru abal-abal untuk mendampingi murid betulan.

Komentar
Posting Komentar