Aku duduk di teras rumah. Nggak ngapa-ngapain. Cuma pengen duduk aja. Jarang pake banget soalnya duduk ongkang kaki di depan rumah. Maklum, rada-rada kurang "srawung" emang.
Gimana mau "srawung" coba. Pagi, masak. Dilanjut beberes rumah yang kaya? Apa ya.. susah mendeskripsikan situasi ketika segala mainan anak berserakan. Semua bantal turun ke lantai dibuat batas teritorial. Selimut jadi tenda.
Gimana mau "srawung" coba. Pagi, masak. Dilanjut beberes rumah yang kaya? Apa ya.. susah mendeskripsikan situasi ketika segala mainan anak berserakan. Semua bantal turun ke lantai dibuat batas teritorial. Selimut jadi tenda.
![]() |
| Sepertinya Sedang Gundah (Foto: pribadi) |
Dan masih banyak kelakuan absurd bocah kurang kerjaan yang nunggu berangkat sekolah entah kapan. Baru juga diberesin. Selang beberapa menit kemudian. Sudah lebih mengenaskan dari kondisi sebelumnya.
Begitu terus sampe nggak terasa udah sore. Sampe lupa belum setrika dan nyuci baju kotor kemarin. Sampe lupa belum masak lagi untuk malam. Nah, kan.. kapan mau leyeh-leyeh "srawung".
Happ.. kembali ke di teras rumah. Banyak anak berlarian melalui jalan di utara rumah. Berkejaran khas bocah. Namun setelah menajamkan telinga. Mereka itu ...
"Aaaaanjiiiiiiing woiiii... Tunggu aaaaanjiiiiiiing.. anjay banget," seloroh bocah tujuh tahunan sambil mengejar bocah lima tahunan.
Tentu, bukan hanya dua anak itu yang kedapatan berkata demikian. Beberapa lainnya yang kerap sliwar sliwer juga fasih. Di usia sedini itu.
Pertanyaannya, anak-anak ngerti nggak sih sebenarnya dengan apa yang diucapkan. Sekedar meniru yang ditonton di ponsel pintar atau tivi. Atau memang sedang mempraktekan apa yang diperoleh dari tontonan yang terus berulang.
*
Begitu terus sampe nggak terasa udah sore. Sampe lupa belum setrika dan nyuci baju kotor kemarin. Sampe lupa belum masak lagi untuk malam. Nah, kan.. kapan mau leyeh-leyeh "srawung".
Happ.. kembali ke di teras rumah. Banyak anak berlarian melalui jalan di utara rumah. Berkejaran khas bocah. Namun setelah menajamkan telinga. Mereka itu ...
"Aaaaanjiiiiiiing woiiii... Tunggu aaaaanjiiiiiiing.. anjay banget," seloroh bocah tujuh tahunan sambil mengejar bocah lima tahunan.
Tentu, bukan hanya dua anak itu yang kedapatan berkata demikian. Beberapa lainnya yang kerap sliwar sliwer juga fasih. Di usia sedini itu.
Pertanyaannya, anak-anak ngerti nggak sih sebenarnya dengan apa yang diucapkan. Sekedar meniru yang ditonton di ponsel pintar atau tivi. Atau memang sedang mempraktekan apa yang diperoleh dari tontonan yang terus berulang.
*
![]() |
| Sepertinya Sedang Gundah |
Baru-baru ini, si sulung dan kembar juga sepotong-sepotong bernyanyi. Mungkin, liriknya ada kata 'los dol'. Emak kudet mana ngerti, itu bocah lagi pada nyanyi apaan.
Seperti sebelumnya, saat lagu 'entah apa yang merasukimu' viral. Emaknya harus mengunjungi mbah gugel dulu. Mencari tau, bocah nyanyi apa.
Sebagai orang tua, terkejut. Cepat sekali anak menyerap tentang hal-hal booming di media baik sosial maupun televisi. Padahal, sudah lebih dari lima tahun tak punya tipi aku, gaes.
Tapi, lebih terkejut lagi. Mereka yang menciptakan karya luar biasa itu. Tidak kah berfikir, ada mungkin jutaan anak akhirnya meniru. Seolah terbiasa berucap, "anjing kamu," kepada teman sepermainan.
Aku koq jadi serem sendiri gitu. Ketika anak-anak dengan mudahnya mengumpat dengan kata-kata buruk pada sesama. Iya, tau.. mereka lagi bermain. Tapi, kan..
"Bunda.. tadi aku dibilang fuck sama #π∆^$ sambil nunjukin jari tengah. Artinya apa jahat?" si sulung melapor.
*
Jadi, agar meminimalisasi si sulung dan kembar terpapar. Fix, memberlakukan kebijakan dilarang main. Uprek di rumah bae.
"Bunda.. itu pada ngajakin main,"
Bilang aja nggak main, mainnya di rumah,"
"Bunda yang bilang,"
"Kamu lah yang bilang,"
Setelah "kapok" membebaskan anak mengikuti ajakan teman-temannya. Tidak tau waktu, dari bangun tidur sampai magrib. Tugas daring tiap hari tidak digarap, pola makan amburadul. Sama sekali tidak istirahat. Dan sebagainya terangkum dalam satu kata, "urakan".
Walaupun masih tetap ada bocah-bocah yang datang ke rumah. Silahkan. Dengan catatan tidak mengajak kaki melangkah keluar dari halaman.
*
Zaman semakin maju. Tapi, rasa-rasanya, ada yang mundur dari peradaban manusia.
Seperti sebelumnya, saat lagu 'entah apa yang merasukimu' viral. Emaknya harus mengunjungi mbah gugel dulu. Mencari tau, bocah nyanyi apa.
Sebagai orang tua, terkejut. Cepat sekali anak menyerap tentang hal-hal booming di media baik sosial maupun televisi. Padahal, sudah lebih dari lima tahun tak punya tipi aku, gaes.
Tapi, lebih terkejut lagi. Mereka yang menciptakan karya luar biasa itu. Tidak kah berfikir, ada mungkin jutaan anak akhirnya meniru. Seolah terbiasa berucap, "anjing kamu," kepada teman sepermainan.
Aku koq jadi serem sendiri gitu. Ketika anak-anak dengan mudahnya mengumpat dengan kata-kata buruk pada sesama. Iya, tau.. mereka lagi bermain. Tapi, kan..
"Bunda.. tadi aku dibilang fuck sama #π∆^$ sambil nunjukin jari tengah. Artinya apa jahat?" si sulung melapor.
*
Jadi, agar meminimalisasi si sulung dan kembar terpapar. Fix, memberlakukan kebijakan dilarang main. Uprek di rumah bae.
"Bunda.. itu pada ngajakin main,"
Bilang aja nggak main, mainnya di rumah,"
"Bunda yang bilang,"
"Kamu lah yang bilang,"
Setelah "kapok" membebaskan anak mengikuti ajakan teman-temannya. Tidak tau waktu, dari bangun tidur sampai magrib. Tugas daring tiap hari tidak digarap, pola makan amburadul. Sama sekali tidak istirahat. Dan sebagainya terangkum dalam satu kata, "urakan".
Walaupun masih tetap ada bocah-bocah yang datang ke rumah. Silahkan. Dengan catatan tidak mengajak kaki melangkah keluar dari halaman.
*
Zaman semakin maju. Tapi, rasa-rasanya, ada yang mundur dari peradaban manusia.


Komentar
Posting Komentar