Selepas Isya.
Tercium bau lumpur. Pekat. Dalam lembab. Dinding yang masih basah.
Detak jarum jam beradu dengan senyap. Malam ini, terasa lebih hening dari biasa.
Aku coba pejamkan mata. Terdengar kecepak-kecepak air. Suara kecepak itu kian berisik. Aku memilih kembali membuka mata.
Apakah ini yang disebut dengan halusinasi. Atau trauma. Sudah tidak ada genangan air. Di dalam, pun di luar rumah. Surut.
Namun, ketika mata ini mulai memejam lagi. Datang gemericik air menggedor telinga. Tidak ada hujan. Hanya gemuruh tanpa rinai.
*
Selasa, 17 November. Dini hari, sekitar pukul 03.00 saat mata ini terbuka. Terbangun dari lelap yang dipaksa.
Mengintip dari balik tirai. Air tepat berada di depan pintu utama. Seolah permisi dan aku berbalik arah. Air memburu langkah.
Aku menyambar buku-buku. Sepersekian detik kemudian, buku berada di tangan si sulung. Terus begitu sampai buku, tas dan alat sekolah lainnya ku kira telah habis.
Air terus meninggi. Hampir selutut. Giliran kasur berserta bantal dan gulingnya. Lempar semua ke tempat tidur anak di atas. Penuh. Sesak. Sesesak nafas ini berkejaran dengan air yang terus membasahi semua.
Lalu, biarlah porak poranda sudah. Semua. Lemari terjungkal. Kursi terapung. Mesin cuci semakin menjauh dari tempatnya. Sepeda motor yang terlupa keberadaannya di garasi. Dan masih banyak lainnya.
Tangan ini tak lagi menjangkau. Dingin. Sekujur terasa beku. Terendam hingga kumandang adzan Subuh. Entah masjid mana. Karena surau belakang rumah juga dipeluk erat air.
Keruh air di dalam rumah mulai tenang. Di ketinggian leher orang dewasa. Dalam gigil dan temaram senja. Menunggu air pulang ke muara.
*
Deras hujan. Pukul 23.02. Mata terjaga. Tak lagi kantuk dirasa. Tercium bau lumpur. Pekat. Dalam lembab. Dinding yang masih basah.
Hingga akhirnya terlelap dengan sendirinya karena lelahnya. Meski samar kecepak dan gemericik menelusup indera pendengaran.
Tercium bau lumpur. Pekat. Dalam lembab. Dinding yang masih basah.
Detak jarum jam beradu dengan senyap. Malam ini, terasa lebih hening dari biasa.
![]() |
| Luapan di Sepertiga Malam |
Aku coba pejamkan mata. Terdengar kecepak-kecepak air. Suara kecepak itu kian berisik. Aku memilih kembali membuka mata.
Apakah ini yang disebut dengan halusinasi. Atau trauma. Sudah tidak ada genangan air. Di dalam, pun di luar rumah. Surut.
Namun, ketika mata ini mulai memejam lagi. Datang gemericik air menggedor telinga. Tidak ada hujan. Hanya gemuruh tanpa rinai.
*
![]() |
| Banjir (lagi dan lagi) |
Selasa, 17 November. Dini hari, sekitar pukul 03.00 saat mata ini terbuka. Terbangun dari lelap yang dipaksa.
Mengintip dari balik tirai. Air tepat berada di depan pintu utama. Seolah permisi dan aku berbalik arah. Air memburu langkah.
Aku menyambar buku-buku. Sepersekian detik kemudian, buku berada di tangan si sulung. Terus begitu sampai buku, tas dan alat sekolah lainnya ku kira telah habis.
Air terus meninggi. Hampir selutut. Giliran kasur berserta bantal dan gulingnya. Lempar semua ke tempat tidur anak di atas. Penuh. Sesak. Sesesak nafas ini berkejaran dengan air yang terus membasahi semua.
Lalu, biarlah porak poranda sudah. Semua. Lemari terjungkal. Kursi terapung. Mesin cuci semakin menjauh dari tempatnya. Sepeda motor yang terlupa keberadaannya di garasi. Dan masih banyak lainnya.
Tangan ini tak lagi menjangkau. Dingin. Sekujur terasa beku. Terendam hingga kumandang adzan Subuh. Entah masjid mana. Karena surau belakang rumah juga dipeluk erat air.
Keruh air di dalam rumah mulai tenang. Di ketinggian leher orang dewasa. Dalam gigil dan temaram senja. Menunggu air pulang ke muara.
*
Deras hujan. Pukul 23.02. Mata terjaga. Tak lagi kantuk dirasa. Tercium bau lumpur. Pekat. Dalam lembab. Dinding yang masih basah.
Hingga akhirnya terlelap dengan sendirinya karena lelahnya. Meski samar kecepak dan gemericik menelusup indera pendengaran.
![]() |
| Kami harus mengutuk alam? atau pengelolaan akan alam? |





Komentar
Posting Komentar