Langsung ke konten utama

Anak Polah Bapak Kepradah



Menjelang siang, sampai juga di pintu masuk lobi pengadilan. Saat mengisi buku tamu. Lamat-lamat terlihat sosok perempuan tua di ujung kursi tunggu.

Setelah berbisik-bisik dengan satpam. Sesuai dugaan. Aku lalu menghampiri perempuan itu dan menyapa. Mungkin ia lupa, biar saja.


anak polah
Kasih Ibu sepanjang zaman


*

Tini, ibu terpidana mati perkara mutilasi disertai pembakaran bagian tubuh korban. Menginjakan kaki kembali di gedung yang menjadi saksi ketegarannya.

"Apa sudah ada dua tahun ya sejak putusan di sini," tanya perempuan itu.

Segera aku membuka gawai. Kemudian mengetik "vonis Deni Priyanto" di kolom pencarian. Lalu, aku menjawab bahwa belum ada dua tahun Deni di penjara.

Tini merasa sudah begitu lama tak bertemu anaknya. Padahal, belum genap satu tahun. Sejak ketuk palu majelis hakim. Dasar sudah lanjut usia, tak mampu mengingat jadwal besuk lapas. Padahal, ingin sekali bertatap muka. Rindu.

"Ke lapas dua kali salah jadwal terus. Tidak boleh besuk di luar jadwal. Tidak bisa sering-sering besuk, tidak punya ongkos buat bolak balik, dari Banjarnegara ke Purwokerto," ujar Tini.

Tentu saja, berat di ongkos. Tini seorang janda. Penghasilan dari serabutan semampunya. Anak yang biasanya mengirimkan uang, di balik jeruji besi.

*

Kedatangan Tini ke pengadilan untuk mencari peluang keringanan hukuman anak semata wayangnya. Setelah upaya hukum kasasi tak dikabulkan Mahkamah Agung.

Bermula dari telepon menantunya untuk menyampaikan pesan Deni. Supaya berkonsultasi ke pegawai pengadilan tentang upaya hukum lanjutan.

Tini yang tidak memahami perkara hukum. Lalu, membuka tas. Selanjutnya, mengangsurkan dua lembar kertas berisi catatan hasil dari perkacapannya dengan istri Deni.

"Mau tanya PK, peninjauan kembali kata Deni. Tadi sudah ke pegawai terus disuruh menunggu pengacara Posbakum," tutur nenek tiga cucu itu.

Tanpa berbekal contekan, Tini mengaku bingung harus berbicara apa. Terlalu banyak yang tak dimengerti. Terlalu rumit baginya. Hanya yang dia tahu, selagi ada celah untuk anaknya untuk lolos dari hukuman mati. Maka akan ditempuhnya.


*
Ibu tetaplah seorang ibu. Kasih sayang yang tak pernah sirna untuk buah hatinya. Sekeji apapun perbuatan yang dilakukan oleh anaknya.

Tini tak pernah kehilangan cinta. Di titik nadir anaknya, hanya ibunya yang bertahan di sampingnya. Rela menukarkan segala yang dipunyai untuk menyelamatkan nyawa sang anak.

"Ada yang ingin sekali disampaikan ke Deni kalau ketemu nanti. Jangan pernah meninggalkan salat lima waktu. Berdo'a terus, mudah-mudahan diberi keringanan hukuman. Patuhi semua aturan yang ada di penjara," papar Tini.

Karena Tini sadar. Tidak ada orang lain lagi yang dapat diandalkan oleh Deni. Hanya dirinya yang bisa diminta tolong untuk mengkomunikasikan perkara dengan beberapa pihak terkait.

Benarlah apa kata pepatah. Anak polah bapak kepradah. Semua tingkah polah anak menjadi tanggungan orang tua. Sebagaimana Deni yang dibui, Tini terkuras jiwa dan raga menanti anaknya terbebas dari mati.

Komentar