Apakah di daerahmu terjadi paceklik air juga? Pada musim kemarau 2020 ini, puncak was-was krisis air bersih terlewati lebih cepat. Ketimbang tahun lalu, 2019, jelas kentara berbeda dalam melewati masa paceklik air bersih. Jika tahun sebelumnya harus mengalami letihnya mengangsu.
Hanya demi bisa menanak nasi dan cukup untuk cebok. Setelah ketersediaan air pasokan dari Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten tak tersisa setetes pun.
Selama hampir satu bulan, mencuci pakaian di sungai. Padahal saban hari dimanjakan oleh mesin cuci yang tak kenal lelah menggiling berapapun banyaknya baju kotor. Tentu saja, belum lupa bagaimana rasanya mengucek satu per satu sandang di sungai.
Tidak sendiri memang, antriannya banyak. Karena batu untuk papan kucek jumlahnya terbatas. Juga, air dari belik atau sumur hanya dua. Tak sebanding dengan orang yang datang ke sungai. Krisis air bersih tahun ini tidak sampai satu minggu.
Debit air sumur meski harus menunggu setengah hari. Agar bisa terjangkau oleh paralon mesin pompa air. Lega.
Peristiwa kesulitan air bersih yang memilukan tak terulang. Bagaimana tidak pilu? Air adalah sumber kehidupan. Mau mandi saja mikir, mending air untuk mencuci piring dulu. Jadi, cukup gosok gigi dan cuci muka.
*
Baru mendapat ujian krisis air bersih sebentar sudah kelimpungan. Memang. Jadi, tidak bisa membayangkan wilayah yang bahkan setiap hari dalam situasi sumber air tidak layak konsumsi. Tiada hari tanpa krisis air bersih.
Contohnya, di gerumbul Nusapule Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh. Sumber air di wilayah tersebut payau. Padahal, jarak ke pantai selatan ditempuh dengan sepeda motor kecepatan normal sekitar satu jam.
Warga menampung air hujan saat penghujan untuk memenuhi kebutuhan dapur. Semenjak ada galonisasi, memudahkan warga untuk memperoleh air bersih. Pengeluaran rumah tangga praktis meningkat untuk musim kemarau dan hujan.
Situasi berubah menjadi tiada hari tanpa galon. Jika kita membutuhkan galon untuk sekadar minum.
Tidak bagi mereka. Segala memasak menggunakan air galon.
Langganan krisis air bersih juga terjadi di gerumbul Watupecah Desa Kedungpring Kecamatan Kemranjen. Warga saat kemarau harus mengangsu air. Banyak yang berjalan kaki, bolak balik menggendong atau memanggul jerigen. *
Mantri Pengairan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pekerjaan Umum Wilayah Sumpiuh membeberkan setiap tahun debit air sungai terus menurun. Polemik yang secepatnya harus ditangani.
Air sungai merupakan sumber pengairan areal pertanian melalui sistem bendung. Sekitar satu dekade lalu, belum nyaring keluhan petani. Benturan mulai terjadi.
Saat air di hulu sungai di tampung untuk kebutuhan konsumsi melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Air.
Kebutuhan vital dihadapkan pada dua hal yang sama gawatnya. Untuk menghidupi sumber pangan dan di waktu bersamaan sebagai kebutuhan konsumsi rumah tangga.
Hingga tiba kemarau. Petani dan rumah tangga berteriak air. Wilayah yang biasanya melimpah air. Mendadak harus diirit-irit jika tak mau merasakan mengangsu atau membeli galon berkali lipat.
Bagaimana ketersediaan air bersih satu dekade yang akan datang? Akankan semakin nyaring teriakan krisis air bersih di puncak kemarau? Akankah areal pertanian bertambah kesulitan tercukupi air?


Komentar
Posting Komentar