Langsung ke konten utama

Di Balik Berita Kisah Tuna Netra Pengrajin Kepek

Siang itu, di gazebo. Ngobrol ngalor ngidul dengan Pak Camat. Tetiba, orang nomor wahid di wilayah kecamatan itu berseru. Teringat sosok luar biasa menurutnya.

"Ada tuna netra bisa membuat kepak," ujarnya antusias.

 
tunanetra pengrajin kepek
Ada banyak alasan untuk tetap berjuang dan tidak menyerah (dok: Radar Banyumas)
 



 "Kepak?"


"Itu lho.. yang buat tempat ayam,"

"Bukan kepak Pak.. aduh.. apa ya namanya,"

"Kepak, yang wadah ayam ditenteng itu,"

"Namanya kepek kayaknya,"

"Yaa.. pokoknya itu. Bagus itu, kalau dibuat berita," timpal Pak Camat diiringi tawa renyah.

*

Berbekal cerita Pak Camat. Beberapa hari setelahnya, mengumpulkan tekad untuk mencari rumah tuna netra. Mengapa harus terkumpul tekad dulu?

Tentu banyak sekali pertimbangan. Pertama, mencari alamat seseorang yang tak dikenal itu bukan hal mudah ketika sendirian.

Memasuki pintu gerbang desa, mulai aksi pencarian dengan bertanya ke pemilik warung di pinggir jalan. Dijelaskan rute dan disuruh bertanya lagi saat ada persimpangan.

Sesuai petunjuk, maka untuk memastikan tidak salah jalan. Pemilik bengkel menjadi tujuan untuk bertanya letak rumah tuna netra. Sudah hampir sampai, katanya.

Setelah mengikuti arahan pemilik bengkel. Apa yang terjadi? Bukan sampai kediaman tuna netra. Justru hanya memutar jalan dan kembali pada ruas empunya bengkel.

Coba sekali lagi bertanya pada lain orang. Bertanya lagi dan bertanya kembali. Entah sudah berapa orang yang ditanya. Sampai akhirnya pada keputusan tersesat. Fix. Pulang. Terbukti, tekad saja tidak cukup.

*

Detik berganti meloncat hingga hari-hari berlalu. Rasa ingin tahu kehidupan tuna netra yang dikisahkan Pak Camat kembali menyeruak.

Aplikasi WhatsApp mengantar dua jempol untuk menuliskan pesan pada seorang polisi. Mantan Humas yang sudah pindah Polsek. Di saat bingung harus melangkah dari mana. Polisi adalah tempat yang tepat untuk bertanya.

"Mas, Bhabinkamtibmas Desa Gumelar Lor siapa ya?"

Dikirimlah contact person Bhabinkamtibmas. Kurang baik apa coba Mas Polisi?

*

tunanetra pengrajin kepek
Bersama dengan Pak Babinkamtibmas yang baik hati (dok: pribadi)

 


Kembali detik berganti meloncat hingga hari-hari berlalu. Setelah mengirim pesan WhatsApp yang berisi perkenalan dan di jawab, "Lagi di Polresta. Ada apa ya?"

Tanpa membuang kesempatan, curhat.

[Aku muter2 cari rumah pak Ngakil, yang pembuat kepek nggak bisa liat, nggak ketemu juga, keder, mbok mau sambang2 ke desa, aku sekalian ikut,]

[Ini aku lagi pulang udah mau nyampai Banyumas. Ya.. mbok mau ketempatnya Ngakil, siap nganter, dekat rumah aku juga,]

Percaya kan? Polisi itu baik banget. Padahal, belum kenal.

Beberapa saat kemudian. Melalui sambungan seluler, "Mas, aku di dekat MI,"

"Tunggu di situ saja, aku jemput," titah suara di seberang sana.

*


Sesampainya di rumah Mas Bhabinkamtibmas, "Aku waktu cari rumah Pak Ngakil lewat sini deh kayaknya,"

"Masa nggak ketemu,"

"Tapi, terus lurus terus itu sampai bengkel lagi di tikungan. Padahal aku tanya sama orang bengkelnya,"

Dan mengalirlah perbincangan a, b, c, d hingga z. Karena, ada dua Mas Polisi lainnya yang ternyata mantan Intel dan mantan Humas yang sebelumnya sering wara-wiri bareng.

Hari semakin siang. Lalu, memutuskan untuk beranjak dari teras. Mas Bhabinkamtibmas bersama mantan Humas mengajak menuju target. Sedangkan mas mantan Intel memilih tidak ikut.

Sepeda motor melaju. Lurus, belok, lurus, belok, lurus meniti jalan lingkungan cor beton. Tiba di depan rumah sederhana dan sepi.

"Masih harus melalui cobaan sekali lagi sepertinya, sabar, ini ujian," batinku.

Setelah dipersilahkan masuk oleh istri Ngakil. Ternyata benar. Suami tidak di rumah. Mas Bhabinkamtibmas pencat pencet ponsel jadulnya. Tentu saja mencari keberadaan pengrajin kepek.

Penantian agak panjang akhirnya usai dengan kedatangan sosok yang berjalan mencari sumber suara kami. Subhanalloh, bertemu dengan tuna netra yang seperti memiliki penglihatan normal.

*


 

 

tunanetra jago membuat kepak
Pak Ngakil, yang jago membuat kepak (dok: pribadi)

"Mau ke mana Mas?"

Mas Bhabinkamtibmas menstarter motor maticnya. Tak menjawab dengan jelas pertanyaan.

"Ngapain tadi berangkatnya mutar muter belak belok. Kalau ternyata rumah Pak Ngakil cuma seberang jalan rumah?" protesku.

"Biar pulangnya gampang, nggak putar balik motor, jalan kan sempit. Pulang tinggal lurus, sampai," sesederhana itu jawabannya.

Jarak antara rumah Mas Bhabinkamtibmas dengan Pak Ngakil mungkin tidak mencapai dua ratus meter.

*

Komentar