Langsung ke konten utama

Sekali Lagi Tentang Pendidikan yang Katanya Penting Banget

Sejak September 2018, saya menjalani satu babak baru. Dalam bidang karier dan perjalanan pendidikan. Saya memutuskan untuk kembali ke bangku sekolah dengan mengambil master. Sebelum memutuskannya, saya melakukan sejumlah ritual dan perenungan.#tsah.


mengapa harus pendidikan
Education is the most powerfull weapon you can use to change the world -Nelson Mandela
Cr: Shutterstock


Saya terutama harus berpikir ekstra keras untuk mengambil dua pilihan. Setia pada ilmu komunikasi, sesuai karier saya. Atau nyebrang ke ekonomi, ilmu baru yang begitu menarik perhatian. Khususnya selama satu dasawarsa terakhir.

Pada akhirnya, saya memilih untuk setia pada ilmu komunikasi. Sejalan dengan keilmuan sarjana saya dan profesi yang ditekuni. Pengalaman lengkapnya, saya tulis di sini. (mampir ya! wkwk..)

Kembali ke bangku kuliah setelah hampir satu dasawarsa, rasanya nano-nano sekali. Awalnya tertarik dan penasaran, akhirnya? Sedikit kewalahan. Hahaha..Terutama karena saya masih harus bekerja di hari dan jam kerja. Mengambil kuliah malam, saya ada di kampus kawasan Palmerah, Jakarta Barat sekitar pukul 18.00-21.30 WIB. Setiap Senin-Kamis.

Kuliah lagi membuat waktu menikmati hidup saya benar-benar terkuras. Haha...bagaimana tidak? Kuliahnya memang hanya 2 jam. Tapi setiap hari ada tugas. Bikin paper atau membuat review, di semua mata kuliah. TEPAR.

Sebagai deadliners, saya biasanya mengerjakan tugas di kantor. Pagi-pagi buta. Berangkat bareng dengan office boy kantor. Ngerjain tugas dulu. Beberapa orang sampai mengira saya menjadi karyawan teladan abad ini. Wkwk.. Kalau lagi waras, saya juga menghabiskan waktu Sabtu-Minggu saya di cafe. GARAP TUGAS. Rajin ya?

Di bulan-bulan awal, siklus menstruasi saya sampai terganggu. Hampir saja saya pergi ke spesialis kandungan, saking takutnya. Saya benar-benar tidak menyangka, kuliah bisa mengobrak-abrik susunan hormon.

----

Hasilnya seperti apa?

Nanti, kapan-kapan saya ceritakan. Kalau masih niat. Sekarang, status saya masih mahasiswa. Bulan depan, saya memperpanjang semester. Sudah lewat satu semester dari target awal, 4 semester saja. Tesis saya masih teronggok di pojok folder laptop. Wakakak...

Kembali ke bangku pendidikan, membuat saya punya bahan buat menulis pengalaman ini Jangan berhenti, baca sampai habis yak!

---


Pendidikan itu maunya apa?
Materi Kuliah Dua Semester yang lalu (dok pribadi)

Sebagai salah satu pelaku industri media dan latar belakang ilmu komunikasi, saya berharap banyak dengan kuliah pascasarjana. Apalagi, karena pada akhirnya, saya mengambil Komunikasi Korporat sebagai konsentrasi pendidikan.

Awal masuk kuliah, sebuah perusahaan konsultan komunikasi, menghubungi saya. Mereka meminta saya membantu memberikan analisa dan strategi pada perusahaan yang sedang mengalami krisis. Ada sebuah perusahaan susu kental manis (SKM) yang diserang dari berbagai sisi menyusul pernyataan BPPOM.

Regulator makanan-minuman itu menyebut produsen SKM harus lebih jujur tentang kandungan gizi dan gula. "Jangan promosi SKM itu layaknya susu, kalau isinya hanya gula," begitu kasarannya.

Meski tidak incharge 100%, saya belajar banyak dari prosesnya. Saya belajar memetakan stakeholder, dampak dan pengaruhnya, program komunikasi apa yang gagal dan perlu diperbaiki ke depan, audit media, dan banyak hal lainnya. Saya memang memiliki ketertarikan besar pada komunikasi krisis pada perusahaan. Hampir semua tema paper yang saya kumpulkan sebagai tugas, memiliki kaitan dengan krisis di perusahaan SKM. Rencananya mau dibawa ke tesis. Entah besok. Wkwk...

Sekarang, hampir dua tahun kemudian, perusahaan yang sama kembali mengontak saya beberapa hari lalu. Dia meminta saya untuk kembali ikut dalam timnya. Ada sebuah perusahaan yang sedang diserang dari berbagai sisi karena menyalahi aturan regulator. Perusahaan tersebut terancam tiga undang-undang: pidana, pasar modal, dan perlindungan konsumen.

Dua pengalaman tersebut membuka pengalaman saya pada banyak sekali hal baru. Saya kerap beranggapan wartawan dan media itu punya posisi yang kuat dalam membangun imej perusahaan. Saya juga lebih bisa memahami dan menghargai posisi humas ataupun PR Agency. Profesionalitas dan totalitas mereka juga perlu diacungi dua jempol. Kerjaan mereka engak cuma nyusun press release dan nemenin wartawan. Enggak segampang itu, Esmeralda!!

Karena sedang berperan sebagai mahasiswa pascasarjana pula, saya kian menyadari betapa berbedanya dunia pendidikan dan pekerjaan tersebut. Bahasa langitnya, ada perbedaan (gap) yang sangat jauh antara dunia pendidikan dan pekerjaan. Link and match, bahasanya Airlangga Hartanto sang Menteri Perindustrian 2014-2019, antara industri dan pendidikan belum terjadi. ORA NYAMBUNG, JEK!!

Pada ilmu sosial, seperti komunikasi yang saya dalami, kesenjangannya lebih lebar lagi. Salah satu mata kuliah saya, adalah komunikasi stratejik dan krisis serta manajemen hubungan media. Tentu saja, saya berharap banyak pada dua mata kuliah ini. bagaimanapun, menurut saya, ini adalah salah satu kompetensi wajib bagi siapapun yang mempelajari bagaimana sebuah perusahaan menyampaikan pesannya pada stakeholder.


Tentu saja kita tidak bisa bilang tidak paham tentang dua hal ini, bila kita membawa gelar M.Ikom di belakang nama bukan?

Sebagai pembelajar, tentu saya juga akan mengaku salah. Kuliah lagi di kelas malam karyawan adalah sebuah perjuangan. Dosen saya bilang, kalian kuliah lagi di sela-sela waktu. Meluangkan waktu di tengah berbagai tuntutan dan tanggung jawab.

Bagaimanapun jatuh-bangun dalam mengerjakan tugas, saya kerap merasa tidak melakukannya dengan maksimal. Saya sering mengumpulkan tugas dengan usaha minimal. Tidak terlalu rajin membaca buku teks (sekali buka langsung ngantuk). Di kelaspun saya kerap mengantuk atau menjawab chat dari rekan kerja atau atasan. Wkwk...

Jadi, saya tidak merasa menjadi mahasiswa yang baik, apalagi rajin. Dalam satu titik, saya merasa bahwa sekolah lagi adalah langkah yang kurang tepat. Dari dulu, saya tidak cocok di bangku sekolah. Haha...cenderung alergi. Kenapa saya berani mati sekali, dengan sekolah sembari kerja?

Di posisi tersebut, bagaimanapu, saya berharap kampus akan memberi sebuah insight baru. Tentang cara kita berkomunikasi kepada stakeholder. Memperluas area penerimaan dan pemahaman sehingga efektivitas komunikasi semakin baik.

Dalam hal ini, saya tidak menemukannya.

Bersama dengan perusahaan konsultan komunikasi tersebut, saya justru belajar bagaimana merancang komunikasi perusahaan yang sesungguhnya. Mengatur dan merancang strategi hubungan dengan media yang sebenarnya. Dimana dan bagaimana menempatkan jurnalis dan media dalam sebuah krisis. Bagaimana manajemen pengelolaan pemberitaan dalam sebuah krisis. Bagaimana membuat audit media setelah krisis perusahaan. Serta bagaimana membuat evaluasi dari hasil audit tersebut untuk membuat rencana program komunikasi.

Emm, maafkan. Saya tidak menemukannya di dua mata kuliah tersebut.

Apakah saya salah memilih kampus? Atau kampus yang salah memilih tenaga pengajar? Saya pastikan bukan yang nomor dua. Mereka semua orang hebat dengan keilmuannya. Mayoritas lulus Phd di Amerika Serikat atau Australia. Mengembangkan keilmuannya dengan penelitian dan apa yang terjadi saat ini.

Pernah mendengar Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan milik Pemprov DKI? Salah satunya dosen saya. Selama pandemmi, saya juga beberapa kali masuk webinar mereka (yang gratis). Mereka bicara mengenai berbagai hal, memetakan pembicaraan sosial media, pengukuran efektivitas program komunikasi di kelembagaan, bagaimana landscape industri media, periklanan di tengah dan setelah pandemi. Insightfull.

Tapi, kenapa saya tidak mendapatkannya di kelas?

Mengapa di kelas, saya justru belajar hal lain? Teori-teori yang mendakik-dakik. Teori yang membuat saya lebih banyak menguap dan mengantuk. Konsep-konsep yang seperti berbeda jauh dengan apa yang saya hadapi di keseharian? Bahkan ketika bicara relasi media sekalipun, saya seperti tidak merasa menjadi bagian darinya? Saya seperti sebagai seorang semut yang dipaksa melihat semut dari kacamata para cicak. Cant relate.

Kejadiannya begitu jelas kemarin. Saya belajar mengevaluasi pemberitaan media saat sebuah perusahaan mengalami krisis. Bahkan untuk mengukur parameter sudut dan warna (tone) pemberitaan, saya harus diingatkan. Rasanya kok, saya langsung jadi merasa gagal menjadi mahasiswa pascasarja komunikasi perusahaan.

Duh lah, Tuhan.
Manusia memang tidak boleh berhenti belajar, bukan?
Izinkan saya terus belajar di luas samuderamu.






Komentar