Langsung ke konten utama

Masih Mau Bilang Corona Tidak Ada?

Seorang kepala desa di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas tengah berjuang memutus mata rantai penyebaran corona virus disease (covid) 19. Hanya lantaran satu orang tanpa gejala yang dinyatakan positif, berbuntut panjang.

covid tidak ada
Suasana Salah Satu desa di Banyumas, Jawa Tengah  (doc: pribadi)
              

Data 14 orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien dikantongi untuk swab. Dua orang diantaranya positif covid-19. Lagi, orang tanpa gejala.

Atas kondisi tersebut, dua wilayah RT praktis lockdown. Dan diperpanjang. Lokasi ketiga orang itu tinggal. Akses lalu lintas warga satu pintu dengan penjagaan ketat.

Dengan adanya penambahan jumlah pasien positif. Swab kembali dilakukan. Ada delapan nama yang disinyalir terpapar. Hasilnya, benar. Empat orang positif covid 19.

Tidak butuh waktu lama bagi virus corona untuk menyusup. Sekitar dua minggu. Satu per satu warga harus dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan lebih dari 400 orang lainnya karantina di rumah masing-masing.

Total tujuh orang positif covid-19. Awal Nur Handoko, Kepala Desa Kanding berkeyakinan kasus bukan untuk ditutup rapat. Koko, sapaannya abai dengan statistik. Angka biar menjadi angka. Nyawa jauh lebih penting.

Di situasi yang semakin pelik. Koko berujar, pemerintah desa bisa saja memilih kebijakan untuk tidak melakukan tracking setelah kasus pertama. Selesai. Tidak ada kenaikan jumlah kasus. Namun, opsi itu tidak dipilihnya.

Ketika kita tahu kenyataannya memang pahit. Namun, lebih pahit kalau kita tidak tahu kenyataannya. Buat saya tidak penting data jumlah kasus. Yang penting lingkungan bersih dulu dari covid," tutur kepala desa yang menjalankan pemerintahan periode ke dua ini.
Lelah. Koko bilang bahkan sangat lelah. Orang nomor wahid di Kanding itu menyetir mobil sendiri untuk mengantar warga swab. Mengenakan alat pelindung diri lengkap, kendaraan berpendingin masih terasa begitu panas. Dan itu, cuma salah satu contoh kegiatan.

*

apakah covid ada
Bantuan diberikan untuk warga yang melakukan lockdown (Doc: pribadi)


Sejak awal merebaknya Covid 19. Kanding taat memberlakukan karantina desa. Pemudik yang masuk diisolasi di pendopo yang disulap jadi gedung. Padahal tidak semua desa melakukan hal yang sama, gedung karantina fiktif.

Hingga pada akhir Juni, kebijakan kabupaten untuk operasional gedung karantina desa dinyatakan rampung. Ternyata, justru menjadi babak baru dalam sejarah Kanding.

Berbulan-bulan membangun benteng. Waktu, tenaga dan pikiran terkuras. Runtuh dalam sekejap. Kasus positif pertama di Desa Kanding adalah perantau yang mudik. Diduga, pemudik sudah terpapar sebelum pulang.

Padahal, kami sampai tekor anggaran untuk mengoperasionalkan gedung karantina. Honor untuk yang piket karantina desa jauh dari kata layak. Tidak sumbut kalau dihitung. Tapi, itulah pengorbanan," ujar Koko.

Pemerintah desa sudah menyalurkan paket sembako untuk warga yang tengah menjalani lockdown. Satu bulan lamanya. Bukan waktu yang sebentar menjalani hari-hari di rumah saja.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah juga memasok sembako. Untuk sisa waktu isolasi, pemerintah desa kembali menganggarkan sembako untuk mencukupi perut warganya.

Desa Kanding baru bergeliat. Aktivitas yang melibatkan massa mulai dihelat. Kini, jangan harap mengantongi izin hajatan. Koko juga menghentikan posyandu, arisan, olah raga dan kegiatan lain yang menimbulkan kerumunan.

*

apakah covid 19 ada
Pembatasan akses yang dilakukan secara mandiri oleh warga (doc: pribadi)


Terlepas dari sudut yang mengklaim bahwa covid-19 adalah konspirasi. Terlepas dari isu tentang perang baru melalui senjata biologi. Terlepas dari sinyalemen penciptaan bisnis lewat segala macam tes corona virus. Dan segala bentuk anti tesis atas virus corona ini.

Akankah kita masih tetap abai dengan yang tak kasat mata, corona? Masih mau bilang corona tidak ada?

*

Koko mengajak kita semua untuk semangat sehat. Mudah, cukup patuhi protokol kesehatan covid-19. Cukup dirinya yang melakoni betapa babak belurnya untuk memutus mata rantai penyebaran corona virus.

Komentar