/Poro putro diwulang ngaji/
/yen mboten saged pasrah pak Kyai/
Di suatu ruang kelas sekolah dasar. Aku adalah wali murid ke empat yang masuk. Undangan jam 07.30 pagi. Padahal udah gugup banget gaes. Motor aja sampe nggak dipanasin dulu. Langsung tancap gas.
Ealah, datang jam 07.45 pagi. Dari 26 wali murid, belum juga ada setengahnya. Mbatin aja lah gaes. Dan rapat wali murid baru dimulai sekitar pukul 08.30. Itu juga, nggak semua wali murid hadir
Tau gitu, tadi mandi dulu. Ehh..
Pada rapat kali ini, pembahasan tentang metode belajar daring dan luring. Wali murid supaya memilih, bagi yang keberatan via daring, bisa secara luring.
Di masa pandemi corona virus disease. Kebijakan belum mengizinkan tatap muka.
*
Sebelum rapat dimulai nih ya gaes. Berarti, ada waktu kurang lebih 30 menit untuk emak-emak "curcol". Ada bapak-bapak juga dink.
Aku sih diem aja gaes, menyimak. Biar dunia seimbang gitu. Masa iya "curcol" semua, nggak ada yang dengerin. Kaya ada hitam maka ada putih. Kalo di general election, ada yang coblos, ada juga yang golput, seimbanglah dunia. lhoo.. skip.. skip..
Curhat colongan emak dan bapak, semua sama. Pusing. Belajar di rumah. Tugasnya banyak. Anak susah. Main terus. Nggak mau dengerin. Nge-game mulu. Yutuban nggak berhenti. Jajan lebih banyak. Pokoknya.. maunya orang tua, cepetan anak berangkat sekolah.
Ternyata, kata emak dan bapak wali murid, "nyekolahin" anak tidak mudah gaes. Aku yang sedari tadi menyimak, senyum. Tapi nggak keliatan, pake masker.
Senyum karena sama dengan emak dan bapak itu. Meski tak semuanya sih.
*
Sebagai orang tua, kelabakan gaes. Tiba-tiba harus menterjemahkan segalanya. Ritmik. Irama. Bilangan. Kiasan. Qur'an dan hadist. Dan masih banyak yang lainnya.
Corona virus. Mengantarkan orang tua, terutama ibu pada sebuah titik. Ibu adalah madrasah bagi buah hatinya.
Sesederhana itukah virus corona ingin menyampaikan pesan?
Mengembalikan peran ibu yang telah terkikis begitu lama oleh sekolah.
*
Jadi prihatin dengan diri sendiri gaes. Rasanya masih jauh dari layak menyandang sebagai madrasah. Pondasi, retak. Dinding, rapuh. Atap, bocor.
Masih harus banyak sekali belajar. Memantaskan diri menjadi madrasah. Agar tak lagi pusing. Tak lagi berkeluh kesah tentang anak belajar di rumah.
Memahami bahwa setiap aksara ilmu dari ibunya untuk anak. Adalah jariyah kelak ketika semua amalan terputus setelah tak lagi bernyawa.
Sehingga, hati kecil ini terus berbisik. Bersyukurlah.. bersyukurlah lebih banyak. Karena telah diberi kesempatan waktu menjadi madrasah setiap harinya. Di saat anak telah memasuki masa sekolah formal.
*
Jadi.. ya gaes.. kalau hari gini masih ada yang julid, ngapain perempuan sekolah tinggi. Kalo akhirnya jadi ibu rumah tangga.
Sini.. sini.. ngobrol sebentar gaes..
Ada berapa banyak orang tua yang sibuk banget cari guru les. Bukan buat menggembleng anak agar pintar. Tapi, karena orang tua, bapak dan emaknya sama sekali nggak ngerti materi pelajaran sekolah anaknya.
Ada itu realitanya. Padahal, anak masih sekolah dasar. Secara.. anak jaman now, mata pelajaran susah bener. Beda jauh sama ibunya dulu. Di usia yang sama, masih belajar mengeja ini ibu Budi.
Begitu kiranya kepingan fenomena. Di tengah wabah yang entah kapan berakhirnya.
*
/Poro putro diwulang ngaji/
/yen mboten saged pasrah pak Kyai/
/yen mboten saged pasrah pak Kyai/
Sepenggal puji-pujian, surau belakang rumah. Nyaring dari pengeras suara. Membelah sunyi. Usai jeda kumandang adzan Magrib.
![]() |
| Education is not a way to escape poverty, its a way to fighting it - Julius Nyerere Cr: pribadi |
Di suatu ruang kelas sekolah dasar. Aku adalah wali murid ke empat yang masuk. Undangan jam 07.30 pagi. Padahal udah gugup banget gaes. Motor aja sampe nggak dipanasin dulu. Langsung tancap gas.
Ealah, datang jam 07.45 pagi. Dari 26 wali murid, belum juga ada setengahnya. Mbatin aja lah gaes. Dan rapat wali murid baru dimulai sekitar pukul 08.30. Itu juga, nggak semua wali murid hadir
Tau gitu, tadi mandi dulu. Ehh..
Pada rapat kali ini, pembahasan tentang metode belajar daring dan luring. Wali murid supaya memilih, bagi yang keberatan via daring, bisa secara luring.
Di masa pandemi corona virus disease. Kebijakan belum mengizinkan tatap muka.
*
Sebelum rapat dimulai nih ya gaes. Berarti, ada waktu kurang lebih 30 menit untuk emak-emak "curcol". Ada bapak-bapak juga dink.
Aku sih diem aja gaes, menyimak. Biar dunia seimbang gitu. Masa iya "curcol" semua, nggak ada yang dengerin. Kaya ada hitam maka ada putih. Kalo di general election, ada yang coblos, ada juga yang golput, seimbanglah dunia. lhoo.. skip.. skip..
Curhat colongan emak dan bapak, semua sama. Pusing. Belajar di rumah. Tugasnya banyak. Anak susah. Main terus. Nggak mau dengerin. Nge-game mulu. Yutuban nggak berhenti. Jajan lebih banyak. Pokoknya.. maunya orang tua, cepetan anak berangkat sekolah.
Ternyata, kata emak dan bapak wali murid, "nyekolahin" anak tidak mudah gaes. Aku yang sedari tadi menyimak, senyum. Tapi nggak keliatan, pake masker.
Senyum karena sama dengan emak dan bapak itu. Meski tak semuanya sih.
*
Ketika yang bernama sekolah. Akibat corona virus, mengembalikan sementara siswa ke pangkuan ibunya.
Corona virus. Mengantarkan orang tua, terutama ibu pada sebuah titik. Ibu adalah madrasah bagi buah hatinya.
Sesederhana itukah virus corona ingin menyampaikan pesan?
Mengembalikan peran ibu yang telah terkikis begitu lama oleh sekolah.
*
Jadi prihatin dengan diri sendiri gaes. Rasanya masih jauh dari layak menyandang sebagai madrasah. Pondasi, retak. Dinding, rapuh. Atap, bocor.
Masih harus banyak sekali belajar. Memantaskan diri menjadi madrasah. Agar tak lagi pusing. Tak lagi berkeluh kesah tentang anak belajar di rumah.
Memahami bahwa setiap aksara ilmu dari ibunya untuk anak. Adalah jariyah kelak ketika semua amalan terputus setelah tak lagi bernyawa.
Sehingga, hati kecil ini terus berbisik. Bersyukurlah.. bersyukurlah lebih banyak. Karena telah diberi kesempatan waktu menjadi madrasah setiap harinya. Di saat anak telah memasuki masa sekolah formal.
*
Jadi.. ya gaes.. kalau hari gini masih ada yang julid, ngapain perempuan sekolah tinggi. Kalo akhirnya jadi ibu rumah tangga.
Sini.. sini.. ngobrol sebentar gaes..
Ada berapa banyak orang tua yang sibuk banget cari guru les. Bukan buat menggembleng anak agar pintar. Tapi, karena orang tua, bapak dan emaknya sama sekali nggak ngerti materi pelajaran sekolah anaknya.
Ada itu realitanya. Padahal, anak masih sekolah dasar. Secara.. anak jaman now, mata pelajaran susah bener. Beda jauh sama ibunya dulu. Di usia yang sama, masih belajar mengeja ini ibu Budi.
Begitu kiranya kepingan fenomena. Di tengah wabah yang entah kapan berakhirnya.
*
/Poro putro diwulang ngaji/
/yen mboten saged pasrah pak Kyai/

Komentar
Posting Komentar