Langsung ke konten utama

Mengapa Harus Menonton Drama Korea, Bukan Sebuah Pembenaran

Saya bukan pecinta film. Tidak, saya yakin. Bahkan, saya bisa dibilang udik mengenai hal satu itu. Saya tidak mengenali banyak sekali aktor terkenal dari luar negeri, apalagi filmnya. Saya juga tidak pernah merasa malu karena tidak menonton atau mengikuti film populer maupun box office internasional. Biasa saja.


Mengapa nonton drakor
Doctor Prisoner (Cr: Google)



Bahkan, saya pernah beberapa kali menonton film semata karena relationship dengan para praktisi humas. Atau biar dapat ketemu sama para direksi atau pejabatnya. Para humas ataupun konsultan komunikasi memang kerap mengajak para jurnalis menonton film sebagai bagian dari proses hiburan.

Sebagai seorang awam, saya tidak memiliki genre favorit. Saya mendapati bahwa saya bisa tertarik pada semua jenis tipe film: komedi, romansa, detektif atau apapun. Kecuali horror. Dibayar pun saya memilih tidak akan menonton jenis film misteri. Saya bisa kepikiran sampai seminggu penuh setelah menonton film misteri. Tidak, terima kasih.

Karena awam dan tidak memiliki banyak pengalaman menonton, saya juga tidak memiliki harapan tinggi jika harus menonton. Apapun yang bisa membuat saya terbawa dan terhanyut dalam cerita akan saya nikmati. Saya tidak terlalu memperhatikan detail ketika menonton sebuah film. Meskipun sebagai netijen julid yang kaffah, tentu saya selalu melemparkan kritik pedas. Ini penting kan buat memajukan industri perfilman? Khususnya dalam negeri? Haha...alasan.


Saya di Tahun 2015 bersama tiket MADE Bigbang seharga Rp2 juta




Sekitar tahun 2012, seingat saya, redaktur meminta saya untuk liputan WAJIB. Kenapa wajib? Rupanya hari itu, Hary Tanoesoedibjo kedatangan tamu penting. Saat itu, saya masih bekerja menjadi reporter di Okezone.com grup MNC. HT, panggilannya, bertemu dengan Asosiasi Pengusaha Musik Indonesia. Saya lupa pastinya, tapi intinya, mereka meminta raja media itu memperlakukan musik lokal dan internasional dengan sama, khususnya dari sisi kuantitas tayang di stasiun televisi miliknya.

Satu hal yang terekam jelas dalam ingatan saya:

"Selama berpuluh-puluh tahun, musik Indonesia berjaya di rumah sendiri. Diserang musik dari berbagai negara: Barat, Tiongkok, kita tetap merajai. Namun, saat ini, kami mulai khawatir dengan ekspansi dari Korea, Pak. Musik dan filmnya. Kami sungguh khawatir, tanpa kepedulian dan tekad yang sama, musik Indonesia bisa kalah sebagai tuan rumah."


Tahun itu, saya mulai menyukai Bigbang. Saya jatuh cinta dengan aksi panggung dan jenis musiknya setelah menonton Galaxy Alive Tour 2012 di Ancol. Beberapa lagu dari penyanyi Korea lain mulai menyambangi playlist. Meski begitu, saya tidak menasbihkan diri sebagai fans garis keras per-Koreaan. Karena itu, mendengar keluhan mereka tersebut, saya merasa mereka terlalu khawatir.

Nyatanya, Korea Selatan memang benar-benar menunjukkan kedigdayaannya. Khususnya pada sektor ekonomi kreatifnya. Tidak hanya musik tapi juga film, budaya, makanan-minuman, gaya busana, dan sejuta bisnis lain yang terkait dengannya. Korea Selatan adalah kiblat baru selain Amerika Serikat dan China.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat Korsel sebagai salah satu investor yang mencatatkan realisasi investasi terbesar di Indonesia selain Singapura dan Jepang. Dalam upaya penanganan krisis COVID-19, Indonesia adalah prioritas, kata mereka. Terutama di saat periode awal penanganan. Indonesia mendapatkan banyak sekali alat rapid test dan swab test dari negeri ginseng. Masuk tanpa terlalu banyak hambatan, termasuk bea impor. Ini keadaan darurat, kata pemerintah.

Bagaimana negara tersebut membangun industri kreatifnya, termasuk film dan musik? Saya tidak tahu banyak. Seorang rekan pernah ceramah bahwa langkah tersebut tidak dibangun dalam satu malam, seperti candinya Roro Jonggrang.

Ada banyak kebijakan melibatkan berbagai kementerian yang terlibat. Ada peran berbagai pihak, termasuk BUMN-ya Korsel sana. Ganti Presiden dan pejabat tidak lantas mengganti kebijakan secara besar-besaran. Ada blueprint yang jelas dan berlanjut di jangka panjang.

"Korea bahkan lebih gila dalam membangun industri perfilman dibandingkan India. Bank mereka bisa memberikan bunga pinjaman yang sangat lunak-seperti subsidi- pada para sineasnya. Itu contoh kecilnya saja. Bank kita, apa kabar?" kata salah seorang kenalan. Dia yang menceritakan dunia perfilman nasional ini adalah seorang asisten sutradara. Profesi sebenarnya adalah pekerja palugada asal ada duit masuk, tambahnya berkelakar.


Dampaknya? Terang seperti matahari. Betapa banyak masyarakat Indonesia yang sekarang kecanduan drama korea dan atau artisnya. Saya sendiri pernah berkisah di blog saya. Hampir lima tahun lalu, saya tak berpikir dua kali untuk melihat konser MADE Bigbang senilai hampir Rp2 juta. tidak lebih dari dua jam. Apalagi hanya kuota internet atau nonton film dokumenternya di bioskop senilai kurang dari Rp100 ribu.

Tidak itu saja. Melalui film, musik dan apapun juga, kita dipaksa akrab dengan ramyeon, kimchi dan panganan Korea lainnya. Akrab dengan Laneige, Inisfree, COSRX dan lainnya. Memasukkan Korsel sebagai destinasi wisata wajib. Dan sejuta hal lainnya dari interaksi kita dengan drama.

---

Film dan drama korea memang memikat. Tentu saja saya tegaskan lagi, saya adalah seorang penikmat awam. Sangat banyak film Korea yang belum saya tonton. Namun, setiap kali menonton film Korea, saya tidak pernah dibuat kagum. Industri perfilman kita, seperti industri lainnya, masih harus belajar lebih banyak. Bekerja lebih keras.

Saya mendapati film Korea dibuat tidak semata hanya hiburan. Selalu ada pesan dan makna dibalik semua pesannya. Ada banyak sekali kritik yang dilemparkan oleh para sineasnya tentang berbagai kondisi di negaranya, atau di negara manapun. Ada potret sosial yang ingin dibingkai. Yang lebih jelas, selalu ada pembelajaran mengenai pedalaman hati manusia. Bagaimana karakter manusia dapat dibangun, dibentuk atau diubah. Karena lingkungan ataupun sosialisasinya dengan manusia lain.


nonton drakor
Sutradara, Kru dan Pemain Parasite saat menerima Academy Award 2020
Merinding gak sih?
(Foto: variety.com)


Setelah menonton Parasite, film Asia pertama yang diganjar Oscar, saya tidak bisa tidur. Saya memikirkan bila akhir film thriller tersebut di kehidupan nyata. Mungkinkah? Di samping itu, saya juga begitu terkagum pada cara mereka menggambarkan kemiskinan di Seoul. Ada adegan dimana mereka harus mencari sinyal internet sampai ke langit-langit rumah yang rendah dan bahkan atas kloset. Bagaimana cara mereka menyelamatkan rumahnya dari banjir. Atau bagaimana efek tinggal di rumah semi basement, berpengaruh pada bau apek baju yang dikenakannya.

"Bau ini dari baju kita, bau lobak. Kita harus segera keluar dari rumah ini," kata Jessica.

Saya juga menemukan banyak sekali pelajaran dari menonton drama korea. 16 atau bahkan 20 episode adalah bagian paling menyebalkan dari menonton drakor. Tapi mungkin inilah yang ditawarkan para pembuat film. Mereka dapat dengan leluasa menampilkan dan mengembangkan karakter dan konflik para tokohnya. Penonton diberikan waktu dan kesempatan untuk melihat metamorfose mereka sebagai manusia. Apa yang bisa ditimbulkan dari berbagai situasi dan kondisi kejiwaan pada seorang manusia.

Kill Me Heal Me adalah drama yang menceritakan bagaimana sebuah trauma dapat berpengaruh pada kejiwaan seseorang. Dia membelah karakternya menjadi tujuh pribadi yang sangat berbeda. Menontonya, saya juga belajar bagaimana memberikan maaf dengan diri sendiri. Memberikan diri sendiri permakluman. Belajar mengetahui bagaimana dampak pengasuhan orang tua dalam membangun karakter anak.

Masih menganggap drakor selalu tentang cinta-cintaan? Pikiranmu kurang terbuka. Mainmu kurang jauh. Bacaan bukumu kurang banyak.

Adegan romansa dalam Parasite benar-benar hanya sebagai bumbu. Hanya 5% saja. Defendant mengisahkan perjuangan seorang jaksa dalam mendapatkan keadilan. Potret bagaimana hukum dapat diselewengkan oleh siapapun penguasa kapital, di negara manapun. Bukan hanya oleh Djoko Tjandra di Indonesia #eh.

Doctor Prisoner mengisahkan tentang hal yang lain sama sekali. Bagaimana KKN terjadi di industri kesehatan dan rumah sakit. Bisnis jual beli status kesehatan di penjara lapas barat Seoul. Tak ada satupun adegan romantis. Bahkan satu ciuman sekalipun.

Saya belajar banyak dari proses menonton drakor. Tidak hanya sekedar hiburan atau membunuh waktu semata. Menjawab dugaan sinis sebagian orang yang menganggap nonton drakor hanyalah milik kaum-kaum lemah nan baper. Saya rasa tidak.

Artis dan aktrisnya cantik dan ganteng. Ya terus kenapa? Masihkah tolak ukur fisik menjadi satu hal yang penting bagimu dalam melihat dan menilai sesuatu? Kalau Oppa dan Eonninya tidak hanya ganteng dan cantik, tapi juga pintar akting. Memang tidak boleh? Dunia memang kadang tidak adil sih. Apalagi kalau langkah terbaikmu untuk mengubah dunia hanya rebahan dan komentar di media sosial.
Seorang teman bahkan menulis di dinding Facebooknya. Mengapa saya menemukan bahwa Tuhan itu dekat, dari film Korea? Perasaan ini, tidak saya rasakan ketika mendengarkan ustadz dan ustadzah itu mengutip ayat-ayat. Maka salahkah saya? Apakah saya berdosa? Bukankah kita bisa menemukan Tuhan lewat satu atau berbagai cara? Kalau ini cara saya, apa tidak boleh?

Saya kok jadi pengen meluk. TIDAK SALAH SAMA SEKALI, SIST!

Apa dampak nonton drakor yang terpenting bagi saya?
Tentu saja karena saya jadi mendapatkan ide untuk menulis catatan yang (terlihat) berbobot. Terutama kalau saya lagi kumat malasnya seperti sekarang. Haha...
Yuk, mari ah lanjutkan lagi.

Jangan kebanyakan nulis, nanti gak sempat ibadah nonton drakor
Hehe...

Komentar