Langsung ke konten utama

Karena Tangis itu Bicara

Ada yang memilih menutup mata pada realita. Bukan karena tidak peduli. Tapi, lantaran hati tidak kuat melihatnya.


Anyelir Menangis Lagi
Dua remaja putri saat diamankan aparat (Cr: dok pribadi)


Seperti hari ini, ketika dua remaja putri diamankan oleh aparat di area perlintasan rel kereta. Remaja yang masih belia, 15 tahun. Remaja yang memilih rumah bernama jalanan.

Sebut saja, salah satu remaja itu Anyelir. Air mata merembes dari sudut mata sendu. Saat menjawab pertanyaan aparat. "Dimana orang tuamu?"

Orang tua Anyelir telah bercerai. Sudah lama baginya. Padahal, usianya baru transisi dari masa anak-anak. Air matanya bukan lagi merembes. Setelah menceritakan lebih jauh sekelumit hidupnya.

"Tidak tahu bapak ibu dimana. Mereka sudah menikah lagi. Aku tinggal dengan bibi dan tidak betah," tuturnya terbata sembari menepis air mata di pipi cemong berdebu.

*

Anyelir. Remaja yang dipaksa menerima keputusan sepihak orang tuanya. Remaja yang tak lagi memiliki "rumah" tempat pulang. Rumah dalam arti sebenarnya. Juga rumah dengan segala makna tersiratnya.

Entah kata apa yang tepat untuk mewakili perasaan Anyelir. Kala tiba di komplek perkantoran setelah diamankan dari jalanan. Tangisnya kembali pecah.

"Sudah tidak ada yang mencari aku. Tidak ada,"

Jari-jemari dekilnya berusaha membujuk mata. Agar air mata tidak terus mengiringi setiap aksara yang terlontar. Jawaban dari setiap tanya aparat untuk pendataan.

Haruskah Anyelir berkata gamblang tentang sebuah kerinduan. Rindu pada sebuah keutuhan keluarga. Rindu pada rumah untuk pulang.

Haruskah Anyelir berkata gamblang untuk rentetan luka di hidupnya. Luka atas perpisahan orang tua. Luka telah terbuang ke jalanan.

Bukankan Anyelir sudah menjadi simbol tentang bentangan jarak rindu. Simbol luka kehidupan. Simbol sisi lain sebuah dunia.

Anyelir menangis bukan semata karena diciduk aparat. Tapi, lebih pada harus kembali terluka atas kondisi hidupnya yang merana. Tidak ada yang dapat menggantikan orang tua kandung. Sesayang apapun bibi Anyelir padanya.

*

Di sebuah bangku panjang. Seorang pegawai kantor tempat dua remaja putri diamankan melipat dua tangannya di bawah dada. Ada yang mengoyak sisi keibuannya. Sebagai seorang perempuan, seorang ibu dan pernah melewati fase seorang anak. Siapa yang tidak iba dengan realita di hadapannya.

"Anak perempuan, bukan untuk pertama kalinya. Sudah berkali-kali anak perempuan jalanan diamankan di sini. Sekedar melihat mereka saja, rasanya tidak kuat,"

*


Anyelir menangis lagi
Salah satu anak perempuan yang ditangkap tidak mengenakan alas kaki.
Punggung kakinya terluka, masih mengeluarkan darah (Cr: pribadi)


Ya, tentu saja. Masih banyak Anyelir-Anyelir lain di luar sana. Potret buram kondisi sosial kita. Anyelir adalah cerita usang.

Namun, jika Anyelir ditarik dalam perspektif kemiskinan. Maka Anyelir adalah penyumbang yang membuat lingkaran setan kemiskinan sulit terputus.

Bagaimana seorang Anyelir dapat bangkit dari keadaannya? Sehingga dapat hidup normal kembali. Sedangkan dirinya, terus berada di jalan. Berada di tengah teman-temannya yang memiliki nasib serupa.

Teman-temannya? Yes.. Anyelir tidak hanya dengan teman remaja putrinya saat ditangkap aparat. Anyelir bersama tiga lelaki yang juga seumuran dengannya. Tiga lainnya, sudah terlebih dahulu kabur sebelum aparat tiba di lokasi.

Satu rombongan remaja jalanan. Kebanyakan putus sekolah. Ada yang tak tamat di sekolah tingkat dasar. Ada yang sampai menengah pertama.

*

Suatu siang, ponsel berdering. Sekretaris redaksi bertanya keberadaan dua remaja putri yang menangis ketika ditangkap aparat.

"Ada orang yang tanya. Kasihan katanya, setelah baca koran. Orangnya ingin mengajak dia jadi asisten rumah tangga," terangnya.

*

Media cetak, koran. Tidak kehilangan segmentasi pasar. Selalu ada yang setia membaca. Meski media online begitu mudahnya dijangkau, hanya dengan satu kali sentuhan ibu jari.

Dan.. koran memiliki peran penting untuk memutus lingkaran setan kemiskinan. Dari sekian pasang mata yang membaca. Setidaknya, ada satu yang terketuk hatinya. Agar potret buram kondisi sosial kita perlahan cerah.

Komentar