Seorang perempuan berkerudung tetiba menghambur. Tentu saja auto freezy. Siapakah? Karena bermasker, jadi tidak paham.
"Ini aku mbaaaak," setelah melepas pelukan dan membuka masker yang menutupi wajahnya.
Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengan guru yang satu ini. Mungkin dua musim penghujan dan dua musim kemarau.
"Terima kasih sudah diberitakan. Sekarang kami memiliki gedung baru untuk sekolah," ujarnya.
Dia adalah guru yang puluhan tahun lamanya bertahan mengajar di gedung bekas dan nyaris roboh. Bertahan walau masyarakat nyaris tak ada yang menyekolahkan. Sebab, fasilitas jauh dari kata layak.
*
Setelah gonta ganti waktu janji bertemu karena selalu bentrok. Akhirnya, dapat duduk bersama seorang perantau yang tengah pulang kampung.
"Kami sudah hampir putus asa. Kemana lagi harus mengadu. Bukan diterima keluh kesah kami, sebaliknya dicemooh. Kenapa kita tidak kenal dari dulu mbak," ujar lelaki berkulit sawo matang itu.
"Terima kasih telah mengabarkan pada dunia. Kami yang terisolasi berminggu-minggu ketika banjir. Kami tidak minta banyak pada pemerintah, hanya meninggikan jalan," lanjutnya.
Bukan musim penghujan saja yang menyiksa. Kemarau lebih berat untuk dilalui. Bencana kekeringan. Tanah kelahiran yang tak mudah untuk meninggalkannya.
Dia bersama puluhan perantau lainnya setiap bulan patungan. Prihatin atas kondisi orang tua dan saudara di kampung halaman membuat mereka menyisihkan sebagian penghasilan. Lelah, katanya. Harus membangun infrastruktur dari keringat sendiri.
"Walau belum aspal atau cor, setidaknya pemerintah mulai melakukan peninggian jalan, beban kami sedikit berkurang," tukasnya. Seumur peradaban di gerumbul, lanjutnya, nyaris tidak tersentuh pembangunan.
*
Sebagian petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Selain terkendala kuota dari pemerintah. Distributor hobinya lamban memasok pupuk ke kios yang ditunjuk pemerintah.
"Biar kapok distributor. Sering-sering saja masuk koran. Kami yang berhadapan langsung dengan petani. Ketika stok habis, kami yang kebingungan. Ditanya petani karena pasokan sering terlambat datang," ungkap pemilik kios pupuk.
Pagi koran tersebar. Menjelang siang, sejumlah pihak mendadak kelimpungan. Seorang kasi pada dinas khawatir dipanggil bupati karena pupuk bersubsidi kosong. Distributor sibuk mempersiapkan pupuk untuk dikirim ke kios.
"Nanti sore pupuk katanya datang. Kalau tidak dibuat ramai di koran. Belum tahu kapan akan dikirim pupuk," imbuh pemilik kios.
*
Apakah benar di masa depan sudah tidak ada lagi media cetak? Apakah benar di masa depan hanya ada media online? Apakah benar wartawan media cetak harus bersiap beranjak meninggalkan dunianya?
Apakah setelah semua yang telah dilalui oleh media cetak akan berujung sebagai riwayat?
Tidakkah kita lupa satu contoh di tahun 1970-an. Telah terjadi peristiwa legenda bagi insan pers. Media cetak pernah berduka mendalam atas kematian Indonesia Raya. Rezim membredel dengan membekukan izin penerbitan.
Sosial kontrol koran asuhan Mochtar Lubis itu seketika binasa. Pers salah satu pilar dalam demokrasi. Kemunculan Indonesia Raya adalah saksi pergulatan panjang koran cetak melawan penguasa. Koran yang dikenal kritis dan memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah.
*
Kini, tiba pada masa media cetak bertumbangan. Bukan.. tentu saja bukan lantaran dibekukan izin penerbitan. Sebagaimana Indonesia Raya* puluhan tahun silam.
Menyesakkan. Jika penyebab gulung tikar lebih pada ketidakmampuan media cetak bertahan dari gempuran kemajuan zaman. Saat semua berada di dalam genggaman tangan melalui ponsel pintar. Saat media online berjejal dalam ponsel pintar.
Orang menyebut senja kala media cetak. Suram. Ada kegundahan yang terus meneror. Akan bagaimana nasib di masa depan dari kertas dan tinta berwajah koran.
*
Sementara itu, yakin.. di belahan bumi lainnya. Masih ada seorang guru yang bertahan atas nama pengabdian dengan segala keterbatasannya. Seorang perantau yang cintanya tak pudar untuk tanah kelahiran mendambakan kemajuan. Seorang pemilik kios yang mengharapkan distribusi pupuk bersubsidi tanpa permainan oknum.
Atau siapapun di belahan bumi lainnya. Yang dirundung gulana akibat terpinggirkan oleh kebijakan tak memihak. Ingin terungkapkan pada khalayak. Namun, tidak tahu harus lewat jalan mana.
Pada titik itulah, alasan pilar ke empat dalam tatanan demokrasi ada. Koran selalu punya andil besar untuk mengawal tatanan yang seharusnya. Lewat kontrol sosial agar tidak ada lagi yang teraniaya.
Akhirnya, semoga. Insan pers pejuang cetak mampu melewati kala senja. Melangkah menyusuri gulita malam dan kembali pada masa terang yang lebih panjang.
*Ignatius Haryanto, Indonesia Raya Dibredel, 2006, LKiS, Yogyakarta.
"Ini aku mbaaaak," setelah melepas pelukan dan membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Ibuuu," jawabku tak kalah antusias pada perempuan yang sudah memiliki cucu itu.
![]() |
| Ketika banjir mulai surut, seorang ibu menerobos genangan menuntun sepeda demi buah hatinya tetap sekolah. |
Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengan guru yang satu ini. Mungkin dua musim penghujan dan dua musim kemarau.
"Terima kasih sudah diberitakan. Sekarang kami memiliki gedung baru untuk sekolah," ujarnya.
Dia adalah guru yang puluhan tahun lamanya bertahan mengajar di gedung bekas dan nyaris roboh. Bertahan walau masyarakat nyaris tak ada yang menyekolahkan. Sebab, fasilitas jauh dari kata layak.
*
Setelah gonta ganti waktu janji bertemu karena selalu bentrok. Akhirnya, dapat duduk bersama seorang perantau yang tengah pulang kampung.
"Kami sudah hampir putus asa. Kemana lagi harus mengadu. Bukan diterima keluh kesah kami, sebaliknya dicemooh. Kenapa kita tidak kenal dari dulu mbak," ujar lelaki berkulit sawo matang itu.
"Terima kasih telah mengabarkan pada dunia. Kami yang terisolasi berminggu-minggu ketika banjir. Kami tidak minta banyak pada pemerintah, hanya meninggikan jalan," lanjutnya.
Bukan musim penghujan saja yang menyiksa. Kemarau lebih berat untuk dilalui. Bencana kekeringan. Tanah kelahiran yang tak mudah untuk meninggalkannya.
Dia bersama puluhan perantau lainnya setiap bulan patungan. Prihatin atas kondisi orang tua dan saudara di kampung halaman membuat mereka menyisihkan sebagian penghasilan. Lelah, katanya. Harus membangun infrastruktur dari keringat sendiri.
"Walau belum aspal atau cor, setidaknya pemerintah mulai melakukan peninggian jalan, beban kami sedikit berkurang," tukasnya. Seumur peradaban di gerumbul, lanjutnya, nyaris tidak tersentuh pembangunan.
*
Sebagian petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Selain terkendala kuota dari pemerintah. Distributor hobinya lamban memasok pupuk ke kios yang ditunjuk pemerintah.
"Biar kapok distributor. Sering-sering saja masuk koran. Kami yang berhadapan langsung dengan petani. Ketika stok habis, kami yang kebingungan. Ditanya petani karena pasokan sering terlambat datang," ungkap pemilik kios pupuk.
Pagi koran tersebar. Menjelang siang, sejumlah pihak mendadak kelimpungan. Seorang kasi pada dinas khawatir dipanggil bupati karena pupuk bersubsidi kosong. Distributor sibuk mempersiapkan pupuk untuk dikirim ke kios.
"Nanti sore pupuk katanya datang. Kalau tidak dibuat ramai di koran. Belum tahu kapan akan dikirim pupuk," imbuh pemilik kios.
*
Apakah benar di masa depan sudah tidak ada lagi media cetak? Apakah benar di masa depan hanya ada media online? Apakah benar wartawan media cetak harus bersiap beranjak meninggalkan dunianya?
Apakah setelah semua yang telah dilalui oleh media cetak akan berujung sebagai riwayat?
Tidakkah kita lupa satu contoh di tahun 1970-an. Telah terjadi peristiwa legenda bagi insan pers. Media cetak pernah berduka mendalam atas kematian Indonesia Raya. Rezim membredel dengan membekukan izin penerbitan.
Sosial kontrol koran asuhan Mochtar Lubis itu seketika binasa. Pers salah satu pilar dalam demokrasi. Kemunculan Indonesia Raya adalah saksi pergulatan panjang koran cetak melawan penguasa. Koran yang dikenal kritis dan memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah.
*
Kini, tiba pada masa media cetak bertumbangan. Bukan.. tentu saja bukan lantaran dibekukan izin penerbitan. Sebagaimana Indonesia Raya* puluhan tahun silam.
Menyesakkan. Jika penyebab gulung tikar lebih pada ketidakmampuan media cetak bertahan dari gempuran kemajuan zaman. Saat semua berada di dalam genggaman tangan melalui ponsel pintar. Saat media online berjejal dalam ponsel pintar.
Orang menyebut senja kala media cetak. Suram. Ada kegundahan yang terus meneror. Akan bagaimana nasib di masa depan dari kertas dan tinta berwajah koran.
*
![]() |
| Idealisme, Masih Adakah? |
Atau siapapun di belahan bumi lainnya. Yang dirundung gulana akibat terpinggirkan oleh kebijakan tak memihak. Ingin terungkapkan pada khalayak. Namun, tidak tahu harus lewat jalan mana.
Pada titik itulah, alasan pilar ke empat dalam tatanan demokrasi ada. Koran selalu punya andil besar untuk mengawal tatanan yang seharusnya. Lewat kontrol sosial agar tidak ada lagi yang teraniaya.
Akhirnya, semoga. Insan pers pejuang cetak mampu melewati kala senja. Melangkah menyusuri gulita malam dan kembali pada masa terang yang lebih panjang.
***
*Ignatius Haryanto, Indonesia Raya Dibredel, 2006, LKiS, Yogyakarta.


Komentar
Posting Komentar