Langsung ke konten utama

Celoteh Tentang Masa Lalu, Masa Kini dan Memulai Halaman Baru: Sebuah Perkenalan

Kalimat apa yang paling sering digunakan untuk mengawali sebuah perkenalan?
Halo, Apa Kabar?
Mbak, nomor hapenya berapa ya?
Akun IG dan Facebook-nya apa?

Atau kalau kenalan di dunia maya, langsung aja nyelonong komentar. Sok tahu atau bahkan sok galak dengan secuil potongan status dan unggahannya? Saya memilih untuk langsung bercerita.


celotehan kita bersama
Saya dan Mbak Fijri di awal perkenalan


Dunia berputar dan berubah dalam setiap tahapannya. Pandemi COVID-19 akan mengubah lebih banyak lagi. Ada banyak sekali prediksi tentang bagaimana kita harus berpikir dan bersikap di tengah new-normal. Udah-lah, tidak usah dibahas. Bosan. Hehe...

Namun diantara sekian deret yang akan berubah di tengah new-normal. Saya tetap percaya ada sesuatu yang bisa bertahan dan berjalan. Sesuatu itu adalah persahabatan. Tentang persahabatan yang tulus, saya percaya banget ini tidak akan seperti tahu bulat. Hanya enak dinikmati selagi hangat. Dingin dan letoy kemudian.

Diantara sekian banyak persahabatan itu, saya yakin hubungan saya dengan Mbak Fijri enggak seperti tahu bulat. Kami berkenalan dan mulai dekat sejak sama-sama aktif di pers kampus. LPM Sketsa, di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. (Awas, kalau ada yang tanya dimana lokasi kampusnya). Saya adalah petugas segala rupa di dalam kepengurusan tersebut. Sementara Mbak Fijri, adalah seseorang yang sangat penting. Pejabat Penelitian dan Pengembangan disingkat Litbang. Meski sering juga diplesetin jadi bagian yang sulit berkembang. Hihi...

Pertemanannya seperti apa? Enggak seperti film Korea yang bisa dijadikan 16 episode sih. Tapi, selama setidaknya empat tahun, dia itu seperti dermaga. Tempat saya mengadu dan berkeluh kesah. Tempat saya bertanya juga soal banyak hal. Curhat dan mengobrol apapun dengannya, membuat waktu membeku. Enggak sadar tiba-tiba sudah Shubuh. Padahal, harus kuliah pagi.

Setelah dia lulus, kami menjadi jarang bertemu. Saya memilih meniti karier di Ibukota, seperti kebanyakan orang daerah yang rindu gemerlap lampu Ibukota. Dia pernah memilih jalan di Kalimantan sampai akhirnya kembali ke kampung halamannya di Sumpiuh, Banyumas. Yang sama, kecintaan kami pada dunia tulis-menulis dan jurnalisme. Sampai saat ini, kami mencoba bertahan.

Meski sangat jarang bertemu langsung, hubungan pertemanan ini ternyata bertahan. Jenis pertemanan yang kadang terasa aneh. Dari sisi karakter, saya merasa dia begitu berbeda. Saya menyebut diri saya sebagai seseorang yang menyukai hingar dan pengar. Merasa nyaman di antara sekian banyak gemerlap lampu dan modernitas.

Sementara Mbak Fijri, dalam pandangan saya, tidak begitu. Dia adalah sebuah oase tempat saya minum dikala kehausan dan kepanasan. Berdiri kukuh di tempatnya meski apapun yang terjadi. Meski bukan tanpa mimpi dan idealisme tentu saja.

Kesibukan dan jarak memang menjadi masalah pertemuan kami. Meski sebenarnya, dari rumah orang tua saya di Kebumen, hanya perlu waktu satu jam menuju kediamannya. Hubungan kami terjadi lebih banyak melalui Whatsapp. Baik teks dan video call (setelah dia tahu cara menelepon video). Anak-anaknya suka menanyakan saya, katanya. Tidak sebaliknya. Karena saya belum punya suami apalagi anak. #eh

Kami bisa mengobrol apa saja lewat whatsapp. Dari urusan makanan, anak-anak, sampai politik dan negara. Sudut pandanganya yang unik selalu membuka mata saya. Apa yang dikeluhkannya adalah sebuah perenungan baru. Merenung saja bukan memikirkan solusi. Keudikannya kadang menjadi cemooh yang menghibur. Hahaha...maaf.

Dua sudut pandang inilah yang membuat kami akhirnya mengeksekusi project baru ini. Menulis catatan, jurnal, atau curhatan ngalor-ngidul ini dalam sebuah blog. Kami akan membuatkan kategorisasi sehingga lebih mudah Anda membaca. Topiknya, bisa apa saja. Syaratnya, tentu saja menarik dan bisa kami tulis. Beberapa diantaranya seperti keuangan, keluarga, pengembangan diri.

Awalnya, masing-masing dari kami akan menulis satu tulisan per minggu. Doakan semangat kami ini tetap membara dan menyala.  Jadi, lebih banyak kontennya. Targetnya apa? Enggak usah ketinggian. Rajin nulis saja dulu selain status di media sosial. Target lain yang muluk-muluk nanti menyusul. Biar kami enggak malu juga kalau gagal. Hahaha...

Pada konsepnya, blog ini akan berisi beragam cerita kami pada berbagai topik. Mungkin kadang akan aneh, unik tapi juga absurd. Meski begitu, sebisa mungkin, kami berusaha menyisipkan pesan moral di dalamnya. Pesan moral yang lebih berisi dibandingkan sinetron selingkuh dan penuh tangis air mata kaya di TV ikan terbang. Hzzz...

---

Tak kenal maka tak sayang kan?
Izinkan kami sekilas memperkenalkan diri pada sidang pembaca sekalian. Hahaha...so-old sekali.

Selama hampir satu dasawarsa terakhir, saya bekerja di beberapa media di Ibukota. Konsentrasi saya adalah pada penulisan artikel di bidang ekonomi, bisnis, manajemen dan keuangan. Meski awalnya hanya pekerjaan, dunia ini menjadi salah satu hal yang sangat menarik perhatian saya. Sedikit banyak, dunia ini juga akan mewarnai tulisan-tulisan saya.

Di samping ekonomi dan keuangan, saya memiliki ketertarikan pada psikologi, sejarah dan perjalanan. Ini adalah blog kedua saya setelah www.ginabelajarmenulis.blogspot.com. Silahkan berkunjung.

Bagi Mbak Fijri, ini blog pertamanya. Tapi bukan berarti dia tidak pernah mencatat dan menulis. Catatan-catatannya yang aduhai tersebar di akun media sosialnya. Langsung ditulis dari smartphonenya, enggak pake admin. Wkwk..

Yang paling menarik, dia melakukannya di tengah seabrek kesibukannya sebagai seorang jurnalis, ibu empat orang anak, dan istri. Sungguh sebuah peran multitasking. Dibutuhkan tidak hanya tekad dan semangat tetapi juga disiplin dan komitmen untuk bisa mengatur waktu dan prioritas.

Ketertarikan Mbak Fijri yang sangat adalah pada bidang tata negara. Wuis, pokoknya dia itu putra bangsa yang berintegritas sekali. Siap-siap saja membaca tulisan panjang lebarnya tentang bagaimana seharusnya negara ditata dan diatur. Prinsip dan idealismenya juga tercermin dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Pokoknya, saya tak pernah ragu untuk menjura hormat padanya.

Sudah ya, catatan pertama dan perkenalan ini, saya yang menulis
Tentu saja pada postingan selanjutnya, Mbak Fijri bisa membalasnya. Mungkin ada yang keliru sedikit. Tapi pasti banyak benarnya. Hahaha...

Salam Kenal,
Selamat Membaca.

Komentar